Rabu, 05 Agustus 2009

Dadakan dan Super Dadakan.....

Hari Senin kemarin, sekitar jam 09.00 aku terima telephone dari teman-teman di Kanwil, yang intinya aku diminta untuk mewakili teman-teman kepala kantor untuk menyajikan paparan tentang cascading renstra yang baru. Ups.. kaget juga, karena pada saat itu aku belum pernah baca sama sekali tentang isi renstra. Renstra itu sendiri aku terima dan belum sempat membacanya sudah harus dihadapkan dengan urusan kantor lainnya yang juga aku rasa sangat penting.

Sebenarnya pemberitahuan tentang instruksi untuk presentasi itu sudah dikirim melalui faksimile pada hari Jum'at. Kalau dicermati hasil faksimile yang diterima, kita bisa tahu kalau pemberitahuan itu dikirim pada jam 18.08 WIB. Aku agak heran juga, karena tidak biasanya instruksi diberikan melebihi jam kerja, apalagi di hari Jumat. Mau tidak mau, suka atau tidak suka yang namanya instruksi harus tetap dijalankan. Hanya ada satu kata untuk instruksi dari sang Bozz... SIAP..!

Jadi pada hari Senin itu aku coba kebut baca dan pahami apa yang dimaksudkan dalam renstra itu, apa itu cascading, apa yang jadi kemauan sang Boss dan bagian mana yang harus aku presentasikan. Al hasil dengan sedikit meraba akhirnya aku coba pelajari dan bikin bahan presentasi. Walaupun sampai jam 20.00 aku lembur di kantor, akhirnya selesai juga bahan presentasiku... Mungkin teman-temanku sekantor tidak ada yang tahu apa dan bagaimana aku menyelesaikan persiapanku itu. Barangkali mereka sudah pada makan malam di rumah bersama keluarga atau sedang bercanda dengan teman-temannya. Sementara aku sendirian di kantor menyelesaikan pekerjaan yang menurutku mendadak ini.

Keesokan harinya aku berangkat masih dengan hati gamang dengan persiapanku ini. karena pencerahan dari teman-teman kanwil sendiri juga sangat minim. Ketika acara dah dimulai aku masih dipenuhi keraguan. Namun setelah paparan dari para petinggi dari Jakarta dan teman yang mewakili dari bidang, aku mulai ditumbuhi keyakinan akan persiapanku.

Akhirnya giliran presentasiku pun tiba.... peserta cascadingpun lumayan banyak, kalau aku perkirakan lebih dari 150 orang. Untungnya aku bisa menyelesaikannya tugasku dalam waktu yang ditentukan.... Huufff syukur aja hari ini bisa aku lalui dengan tidak mengecewakan.

Acara cascading akan berakhir tengah hari... Sebelum acara berakhir aku dipanggil ke ruangan sang Boss dan diberikan informasi bahwa besok akan ada soft openning kantor dan untuk melengkapi acara, aku diinstruksi lagi oleh sang Boss untuk mengisi acara disana dengan memaparkan kiat-kiat keberhasilan yang dilakukan oleh teman-teman di kantor ku... Lagi-lagi aku tidak bisa menolak dan hanya bisa mengatakan... SIAP..!. Mulai lah pikiranku diisi dengan bayangan bahwa malam ini aku bakal lembur lagi...

Ketika acara cascading berakhir dan tiba waktu istirahat, atas lobby teman-teman sejawat jadwal pemaparanku yang sedianya dilaksanakan besok terpaksa harus dilakukan siang ini... huffff... kalau ini sih tugas SUPER MENDADAK...!!!! Dan lagi-lagi aku hanya punya persediaan satu kata.. SIAP...!!!

Jadilah aku ambil laptop... disaat peserta lain pada menikmati istirahat sambil menyantap makan siang aku harus berpikir apa yang harus aku paparkan... Makan siangku aku santap dengan amat buru-buru... aku sudah tidak memikirkan jenis dan rasa makanan yang ada dihadapanku.. yang ada dalam pikiranku hanya yang penting ada bahan bakar yang masuk ke perutku supaya aku tidak kehabisan energi.

Selesai makan siang langsung aku buka laptop dan dengan ketrampilan jariku aku mulai ketak-ketik di power point materi yang harus aku paparkan. Beruntung aku selama ini tahu dan paham apa yang telah dikerjakan oleh teman-teman di kantor sehingga aku tidak terlalu kesulitan untuk menuangkannya dalam materi pemaparan kali ini. Al hasil ketika jam istirahat berakhir pekerjaanku yang super mendadak ini berhasil aku selesaikan. Walaupun masih jauh dari sempurna, tetap aku kasih sentuhan animasi supaya sedikit menarik perhatian.

Akhirnya giliranku untuk mempresentasikan kiat-kiat keberhasilan yang dilakukan oleh teman-teman di kantor ku tiba... dan singkat cerita aku bisa menyelesaikan presentasi itu dalam waktu kurang lebih 40 menit.

Puas sudah capekku beberapa hari ini terbayar sudah... Alhamdulillah, puji syukur aku panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberiku kekuatan....

(Tanpa proses editing.... yang penting dah bisa tercurahkan..)

Kamis, 30 Juli 2009

17 Agustus

Peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia identik dengan pertandingan dan perlombaan baik yang bersifat olahraga maupun permainan sederhana yang selalu dikemas dengan aneka keramaian dan kemeriahan. Satu hal yang tidak boleh kita tinggalkan untuk memperingati hari kemerdekaan ini adalah upacara bendera. Ada satu cerita yang pernah aku alami dan lihat yang menurutku kejadian ini perlu kita camkan dan pikiran sebagai tambahan motivasi kita dalam mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati hari kemerdekaan kita.

Pada saat aku menjabat sebagai Kepala Kantor di sebuah kota yang harus menyeberang pulau Jawa, ada sebuah instruksi dari atasanku bahwasanya aku harus mengadakan upacara bendera dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Instruksi itu cukup mendadak, karena instruksi yang dikirim melalui faksimile itu datang pada tanggal 16 Agustus. Kami akan kelabakan waktu itu, karena halaman gedung kantorku tidak representatif buat menyelenggarakan upacara bendera (salah satu alasan pembenar kali ya...) dan kami selama ini juga belum pernah menyelenggarakan upacara bendera.

Disamping itu pegawai yang bertugas disana banyak sekali yang berasal dari luar kota, sehingga mereka ingin sekali memanfaatkan tanggal itu sebagai libur panjang karena bertepatan dengan hari Jumat. Setelah melalui kasak kusuk dengan teman-teman disana akhirnya aku ambil keputusan bahwasannya upacara bendera 17 Agustus aku tiadakan, sedangkan absensi upacara yang diminta oleh atasanku kami buat fiktif dengan harapan kami tidak akan kena marah oleh atasanku.... (sorry ya Bozz...). Jadilah akhirnya kita menikmati libur selama 3 hari dan aku serta teman-teman bisa pulang kampung lebih lama.

Pada tanggal 17 Agustus itu aku tidak kemana-mana alias hanya beraktivitas di dalam rumah sambil nonton televisi. Waktu itu aku hanya keluar rumah untuk menunaikan ibadah sholat Jumat saja. Pada saat keluar rumah dan ketemu dengan beberapa tetangga mereka bercerita tentang kegiatan upacara bendera di kantornya yang dilaksanakan pada pagi hari. Selain itu mereka juga menanyakan keberadaanku di rumah pada hari itu dengan pertanyaan, "apakah hari ini tidak mengikuti upacara". Dengan berbagai dalih aku berusaha menghindar untuk mengatakan bahwa hari ini aku tidak mengikuti upacara. Mereka pun tidak terlalu mempermasalahkan jawabanku karena aku pikir mereka toh juga bertanya hanya untuk basa-basi saja.

Ketika sore hari tiba aktivitasku masih banyak aku lakukan didalam rumah dengan menonton televisi yang kebetulan menyiarkan rangkaian kegiatan yang terjadi selama hari peringatan kemerdekaan republik ini. Hampir semua stasiun televisi sedang mengulas bahwa rasa nasionalis bangsa ini belum luntur. Hal ini bisa dilihat dari tayangan-tayangan yang memberitakan bahwa banyaknya kantor-kantor baik swasta maupun pemerintah yang mengadakan upacara untuk memperingati hari kemerdekaan ini. Tidak ketinggalan pula para kaum gepeng (gelandangan dan pengemis) di Surabaya juga mengadakan upacara bendera sendiri di halaman Taman Bungkul Surabaya.

Melihat berita terakhir ini hati ini rasanya bergetar. Hatiku berkecamuk penuh dengan kebanggaan sekaligus penyesalan. Bangga karena melihat bahwa bangsa ini masih penuh dengan nasionalisme dan penyesalan karena aku tidak memperingati kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan penuh pengorbanan baik harta maupun nyawa para pejuang kita. Aku sungguh merasa tidak mempunyai jiwa nasionalisme saat itu dan kalah dibandingkan dengan nasionalisme yang dimiliki para kaum gepeng yang secara derajat kalah jauh denganku dan disisi lain aku merasa telah dihidupi dari hasil kerjaku terhadap republik ini

Melalui kejadian itu aku bersumpah dalam hatiku bahwasannya dalam peringatan kemerdekaan pada masa-masa mendatang, aku harus menyelenggarakan dan mengikutinya.

Aku berharap teman-teman yang sempat membaca blog ini untuk tergugah mau mengikuti upacara 17 Agustus dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Dan yang paling penting nasionalisme itu bisa tumbuh di dalam sanubari kita. Masih banyak tugas kita dalam mengisi kemerdekaan ini. Tugas kita tidak hanya sekedar seremonial dengan mengadakan upacara, namun kita harus mengisinya dengan penuh tanggung jawab melalui berbagai aktivitas yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara tercinta.

Jumat, 17 Juli 2009

Kecewanya Anakku



Ketika tersiar kabar bahwa kesebelasan kesayangan anakku akan bermain melawan Indonesia All Star, sebuah harapan ingin menonton secara langsung pertandingan persahabatan tersebut langsung tersirat dengan jelas di wajah anakku. Kesebelasan atau tim sepakbola yang akan datang tersebut bernama Manchester United, sebuah klub sepakbola papan atas dengan reputasi dunia. karena Klub ini adalah salah satu tim favorit anakku, tak heran jika bukan hanya nama pemainnya yang dia hafal betul di luar kepala, namun lebih dari itu tinggi badan dan umur para pemainnya pun dia hafal. Pernak pernik atau merchandise dari klub ini pun menjadi koleksinya.

Dengan pertimbangan bahwa tidak setiap tahun (Seumur-umur memang baru kali ini aku mendengar ada rencana Klub ini akan bermain di Indonesia) dan pertandingan akan dilaksanakan di Indonesia (kita tidak perlu bermahal-mahal ria harus terbang ke Inggris atau eropa sana) serta melihat kecintaan anakku terhadap klub ini, aku memutuskan untuk menyetujui permintaan anakku untuk dapat menonton pertandingan secara langsung. Seperti kita ketahui rencananya klub ini akan bermain di Gelora Bung Karno pada tanggal 20 Juli 2009..

Melihat banyaknya penggemar klub ini di Indonesia dari awal aku memprediksi akan banyak sekali yang berminat untuk menonton pertandingan secara langsung. Oleh karena itu jauh-jauh hari aku sudah mencari informasi untuk mendapatkan tiket pertandingan tersebut. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, aku belum juga mendapatkan titik terang akan keberadaan tiket tersebut. Namun dengan berbagai usaha akhirnya saya dan anakku berhasil mendapatkan tiket itu... eh enggak ding baru voucher aja. Rencananya yang sudah disusun travel tempat aku mendapatkan tiket sudah ada di tanganku.

Jadwal itu dimulai dengan keberangkatan pada hari Sabtu dari Malang dan kita akan menginap di Surabaya karena pesawat yang akan mengangkut kami akan diberangkatkan pada hari Minggu jam 07.10 WIB. Sesampai di Jakarta kita akan menginap di Twin Plaza Hotel dan malam harinya kita akan diajak untuk menonton latihan yang digelar oleh Manchester United dan pada hari Senin malam kita baru akan menyaksikan pertandingan yang sebenarmya. Sebuah rencana yang menurutku sudah disusun sedemikian rapih.

Hari demi hari setiap ketemu anakku pembicaraan kami selalu mengarah ke pertandingan tersebut, walaupun dalam hari-hari belakangan anakku agak turun semangatnya karena salah satu pemain kesayangannya harus pindah ke klub lain.

pagi hari ini Jumat tanggal 17 Juli 2009 jam 08.10 bertempat di kamar 311 Hotel Tretes Raya (Ada kegiatan kantor yang mengambil tempat disana) aku melihat televisi dan ternyata di stasiun itu sedang disiarkan bahwa telah terjadi ledakan bom di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton Jakarta. Wow. ingatan ini langsung tertuju pada pertandingan sepakbola ini, karena sebelumnya kami sudah mendapatkan informasi bahwa di Hotel Ritz Carlton inilah punggawa-punggawa Manchester United ini bakal menginap. Begitu mendengar berita ini, bersama teman-teman aku sudah memprediksi bahwa pasti akan ada pembatalan kedatangan klub dari negeri Inggris ini.

Perkembangan demi perkembangan akan berita ledakan bom ini aku ikuti melalui siaran televisi. Dan benar saja mendekati pukul 14.00 siang aku melihat berita bahwasanya kedatangan Klub Manchester United ke Indonesia secara resmi dibatalkan. Aku tidak membayangkan dan membahas berapa kerugian yang ditimbulkan akibat ledakan bom dan pembatalan pertandingan tersebut, namun aku lebih memikirkan bagaimana kecewanya anakku.

Benar saja setelah aku beritahukan kabar pembatalan ini anakku tampak kecewa sekali. Hal ini tidak hanya tampak dari ucapannya saja, melainkan aku juga bisa melihat kekecewaan itu dari raut wajah dan ekspresi yang dia perlihatkan melalui bahasa tubuhnya. Mudah-mudah pada masa mendatang anakku bisa menyaksikan langsung pertandingan yang dimainkan oleh klub kesayangannya ini.

Bagi para teroris yang sempat baca blok ini, buka mata hati kalian, lihat anakku telah menjadi korban kekejianmu. Walaupun menjadi korban tidak langsung tetapi kalian telah menciptakan kekecewaan pada anakku. Inikah yang memang harus kalian perjuangkan....?