Peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia identik dengan pertandingan dan perlombaan baik yang bersifat olahraga maupun permainan sederhana yang selalu dikemas dengan aneka keramaian dan kemeriahan. Satu hal yang tidak boleh kita tinggalkan untuk memperingati hari kemerdekaan ini adalah upacara bendera. Ada satu cerita yang pernah aku alami dan lihat yang menurutku kejadian ini perlu kita camkan dan pikiran sebagai tambahan motivasi kita dalam mengikuti upacara bendera dalam rangka memperingati hari kemerdekaan kita.
Pada saat aku menjabat sebagai Kepala Kantor di sebuah kota yang harus menyeberang pulau Jawa, ada sebuah instruksi dari atasanku bahwasanya aku harus mengadakan upacara bendera dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Instruksi itu cukup mendadak, karena instruksi yang dikirim melalui faksimile itu datang pada tanggal 16 Agustus. Kami akan kelabakan waktu itu, karena halaman gedung kantorku tidak representatif buat menyelenggarakan upacara bendera (salah satu alasan pembenar kali ya...) dan kami selama ini juga belum pernah menyelenggarakan upacara bendera.
Disamping itu pegawai yang bertugas disana banyak sekali yang berasal dari luar kota, sehingga mereka ingin sekali memanfaatkan tanggal itu sebagai libur panjang karena bertepatan dengan hari Jumat. Setelah melalui kasak kusuk dengan teman-teman disana akhirnya aku ambil keputusan bahwasannya upacara bendera 17 Agustus aku tiadakan, sedangkan absensi upacara yang diminta oleh atasanku kami buat fiktif dengan harapan kami tidak akan kena marah oleh atasanku.... (sorry ya Bozz...). Jadilah akhirnya kita menikmati libur selama 3 hari dan aku serta teman-teman bisa pulang kampung lebih lama.
Pada tanggal 17 Agustus itu aku tidak kemana-mana alias hanya beraktivitas di dalam rumah sambil nonton televisi. Waktu itu aku hanya keluar rumah untuk menunaikan ibadah sholat Jumat saja. Pada saat keluar rumah dan ketemu dengan beberapa tetangga mereka bercerita tentang kegiatan upacara bendera di kantornya yang dilaksanakan pada pagi hari. Selain itu mereka juga menanyakan keberadaanku di rumah pada hari itu dengan pertanyaan, "apakah hari ini tidak mengikuti upacara". Dengan berbagai dalih aku berusaha menghindar untuk mengatakan bahwa hari ini aku tidak mengikuti upacara. Mereka pun tidak terlalu mempermasalahkan jawabanku karena aku pikir mereka toh juga bertanya hanya untuk basa-basi saja.
Ketika sore hari tiba aktivitasku masih banyak aku lakukan didalam rumah dengan menonton televisi yang kebetulan menyiarkan rangkaian kegiatan yang terjadi selama hari peringatan kemerdekaan republik ini. Hampir semua stasiun televisi sedang mengulas bahwa rasa nasionalis bangsa ini belum luntur. Hal ini bisa dilihat dari tayangan-tayangan yang memberitakan bahwa banyaknya kantor-kantor baik swasta maupun pemerintah yang mengadakan upacara untuk memperingati hari kemerdekaan ini. Tidak ketinggalan pula para kaum gepeng (gelandangan dan pengemis) di Surabaya juga mengadakan upacara bendera sendiri di halaman Taman Bungkul Surabaya.
Melihat berita terakhir ini hati ini rasanya bergetar. Hatiku berkecamuk penuh dengan kebanggaan sekaligus penyesalan. Bangga karena melihat bahwa bangsa ini masih penuh dengan nasionalisme dan penyesalan karena aku tidak memperingati kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan penuh pengorbanan baik harta maupun nyawa para pejuang kita. Aku sungguh merasa tidak mempunyai jiwa nasionalisme saat itu dan kalah dibandingkan dengan nasionalisme yang dimiliki para kaum gepeng yang secara derajat kalah jauh denganku dan disisi lain aku merasa telah dihidupi dari hasil kerjaku terhadap republik ini
Melalui kejadian itu aku bersumpah dalam hatiku bahwasannya dalam peringatan kemerdekaan pada masa-masa mendatang, aku harus menyelenggarakan dan mengikutinya.
Aku berharap teman-teman yang sempat membaca blog ini untuk tergugah mau mengikuti upacara 17 Agustus dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Dan yang paling penting nasionalisme itu bisa tumbuh di dalam sanubari kita. Masih banyak tugas kita dalam mengisi kemerdekaan ini. Tugas kita tidak hanya sekedar seremonial dengan mengadakan upacara, namun kita harus mengisinya dengan penuh tanggung jawab melalui berbagai aktivitas yang mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara tercinta.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Di tengah hiruk pikuk kehidupan berbangsa di negara ini, rasanya dapat mengikuti upacara peringatan kemerdekaan adalah satu kesempatan yang patut untuk diikuti...
BalasHapusAlhamduliLlah selama bekerja di DJP Semarang ini tidak pernah tertinggal sekalipun upacara aku ikuti...bahkan ketika hamil besarpun tetap kuikuti. Dan setiap kali pengibaran bendera dengan iringan lagu Indonesia Raya selalu membuat hati bergetar haru...Indonesia raya...merdeka...merdeka...andaikan kita belum merdeka...ah...terimakasih pahlawan atas jasamu...
Salut buat anda..!
BalasHapus