Hampir setiap hari Sabtu di depan rumahku melintas seorang wanita tua dengan perawakan kecil dan dengan busana yang sangat sederhana. Usia rupanya sudah menggerogoti tubuhnya, sehingga untuk berjalan saja, dia harus menggunakan tongkat sebagai alat bantu. Rupanya ia sudah pernah terkena serangan stroke. Hal ini bisa dilihat dari kaki dan tangan kirinya yang sudah sangat berat untuk digerakkan. Memperhatikan kondisi yang sedemikian rupa timbul rasa iba bagi siapapun yang melihatnya. Berkali-kali aku melihat dia duduk di sebuah pasangan batu bata sebagai pembatas jalan dan parit yang melintas di sebelah rumahku. Pernah juga aku melihat dia duduk di berm rumah tetanggaku.
Namun dia tidak pernah mengetuk pintu rumahku untuk meminta layaknya seorang pengemis. Namun rasa iba membawaku untuk memberinya sedikit bantuan. Dia menerima saja pemberianku dan tak lupa dia mengucapkan terima kasih sambil mendoakanku. Mendengar dia mengucapkan doa dalam bahasa jawa aku mengucapkan amin, layaknya seorang makmum yang sedang mengamini doa imamnya.
Waktu terus berlalu dan hampir setiap hari Sabtu aku ketemu dia dan aku selalu memberinya sedikit bantuan. Setiap menerima bantuan dia selalu memanjatkan doa untukku. Aku pernah menawari dia untuk mengetuk pintu rumahku jika dia lewat depan rumahku sedangkan aku tidak sedang ada di depan. Namun dia menolaknya dengan mengatakan tidak enak kalau harus menggangguku dengan ketukannya.
Setelah beberapa kali aku ketemu, akhirnya disamping dia tetap memanjatkan doa, dia mulai berani bercerita tentang kehidupannya. Rupanya Ibu tua ini sudah lama ditinggal mati oleh suaminya dan sekarang ini dia hidup dengan seorang anak angkatnya yang tidak berbudi. Dia sering disia-siakan bahkan disiksa oleh anaknya. Dalam kedukaan hidupnya ia bercerita sudah punya niat untuk bunuh diri dengan cara menabrakkan dirinya ke mobil yang sedang melaju. Aku berusaha untuk menasihatinya, agar jangan sampai melakukan itu karena tindakan itu sangat dibenci oleh Allah. Bunuh diri adalah suatu keputusan yang masuk dalam katagori putus asa. Sudah 2 kali dia bercerita tentang rencananya itu dan sudah 2 kali pula aku menasihatinya.
Kejadian yang aku alami pada hari Sabtu kemarin cukup membuatku bingung sekaligus kaget...
Sabtu kemarin ketika aku sedang di depan rumah, aku melihat dari kejauhan ibu tua ini berjalan dengan sangat berat untuk menghampiriku. Namun belum sampai di dekatku dia sudah harus berhenti dan duduk di pasangan batu bata pembatas parit samping rumahku itu. Aku coba menghampiri dia dan seperti biasa aku berikan sedikit bantuan. Kembali lagi dia memanjatkan doa untukku. Setelah itu dia bercerita sambil berterima kasih atas pemberianku yang menurut dia cukup digunakan untuk makan selama seminggu.
Setelah itu dia bercerita lagi bahwa dia sudah sangat berterima kasih atas bantuanku dan dia rupanya mulai percaya denganku. Hal ini terlihat dari ceritanya bahwasannya dia masih mempunyai uang yang cukup banyak yaitu Rp. 20.000.000,- hasil dari penjualan tanah yang telah diwariskan oleh orang tuanya. Sebenarnya tanah yang ia jual laku Rp. 45.000.000,-. Tapi yang Rp. 25.000.000,- sudah dia bagi dengan saudaranya dan sebagian lagi sudah diberikan serta dihabiskan oleh anak angkatnya.
Cerita yang membuatku bingung dan tak habis pikir adalah ketika dia bertanya apakah aku akan menerima jika dia akan menitipkan uangnya sebesar Rp. 20.000.000,- itu kepadaku. Bahkan dia rela dan ikhlas jika uang itu nantinya untukku. Aku boleh memakainya sebagai imbalan atas kebaikanku kepadanya. Dia tidak akan memintanya kembali walaupun dia sendiri masih sangat kekurangan.
Dalam perbincangan itu aku coba terus berpikir positif dan akupun mengatakan bahwa jika memang Ibu percaya sama saya, silahkan dititipkan ke saya. Uang itu sekarang masih dititipkan ke Saudaranya di desa dan akan diambil hari Jumat serta akan diserahkan ke saya pada hari Sabtu mendatang. Dari perbincangan itu pula aku baru tahu kalau nama Ibu itu adalah Sumaryanti yang berasal dari Dampit Kabupaten Malang.
Singkat cerita aku jadi penasaran karena orang yang selama ini aku berikan sedikit sekali bantuan, ternyata bersedia memberikan balasan yang sedemikian besar...
Ya Allah ijinkan aku menceritakan kejadian ini... bukan aku bermaksud menyombongkan kebaikanku... tapi ada yang mengganggu dalam benakku dan membuat aku masih berpikir pertanda dan pelajaran apakah yang bisa diambil dari semua ini?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
suatu bukti nyata Pak, bahwa jika kita memberi dengan tulus, maka itu akan kembali ke kita, setelah dilipatgandakan...
BalasHapusSemangat terus untuk memberi ya Pak...
Subhanallah...
BalasHapussaya terkejut membaca endingnya..
salah satu hikmah dari bersedekah, kita akan mendapat kepercayaan, baik dari Allah maupun sesama...
cerita selanjutnya saya tunggu Pak...