Kamis, 21 Mei 2009

Over... di Roger..

Kalau kita pernah hidup di kampung atau melihat film-film Indonesia jaman dulu... mungkin kita akan melihat orang yang memukul bambu dengan cara berulang-ulang... Bambu itu didesain sedemikian rupa sehingga mampu mengeluarkan suara. Suara itu mempunyai arti apabila dipukul dengan irama tertentu... Dengan demikian alat tersbut sudah masuk dalam kriteria sebagai alat komunikasi, walaupun masih dalam tingkatan yang sangat sederhana.

Didalam perkembangannya alat komunikasi ini telah banyak bergeser seiring dengan kemajuan teknologi. Kita coba telusuri atau ingat kembali perjalanan kemajuan alat komunikasi ini, terutama yang sifatnya untuk pergaulan. Apabila kita adalah produk 1960an atau 1970an awal kita mengenal adanya alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan frekuensi radio dengan gelombang tertentu (secara teknis sih gw g tahu banget... ). Yang pertama adalah menggunakan istilah radio 11 Meter... Barangkali nama itu disesuaikan dengan frekuensi yang dipakai. Alat komunikasi ini sempat menjadi trend dikalangan anak muda waktu itu, dengan organisasi yang masih ada hingga sekarang yaitu KRAP (Komunikasi Radio Antar Penduduk). Jangkau radio ini cukup jauh... bahkan untuk pesawat dengan antena tertentu bisa mencapai negara tetangga seperti Filipina bahkan Tailand.

Dirasa suara yang dihasilkan kurang bening... kembali dicari, diciptakan, diedarkan dan dipakai radio dengan istilah 2 Meter... Nama ini barangkali juga disesuaikan dengan frekuensi yang dipakai. Alat inipun sempat ngetrend dan bahkan sampai saat ini sebagian kalangan masih menggunakannya. Organisasi yang menaungi kegiatan ini dikenal dengan nama ORARI (Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia).

Bagi kalangan tertentu yang karena adanya keterbatasannya tidak berkesempatan menggunakan kedua jenis pesawat tersebut, masih mempunyai alternatif lain yang dikenal dengan Interkom. Interkom adalah alat komunikasi jarak jauh yang terhubungkan oleh kabel secara langsung. Kabel dihubungkan diantara rumah-rumah agar bisa dipakai untuk berkomunikasi, akibatnya jarak yang bisa dijangkau untuk pesawat ini pun tidak terlalu jauh dan tidak berumur panjang karena dinilai tidak efisien.

Sekitar awal tahun 1990an penggunaan handphone baru beredar di Indonesia dan sekitar 2000 an baru marak penggunaan SMS hingga saat ini. Dan yang terbaru saat ini adalah komunikasi melalui chatting... Kebetulan saya sudah mengalami semua (udah tua dong..), (eh.. menggunakan ding, walaupun dari hasil minjem temen..)

Kita tidak akan membicarakan teknologinya... namun coba kita bicarakan apa yang menjadi isi dari pembicaraan mereka. Kesemua alat komunikasi ini mempunyai persamaan, yaitu dalam menyampaikan pesan kita tidak bertatap muka secara langsung... Alhasil kita tidak dapat melihat ekspresi dari teman bicara kita. Kita tidak tahu apakah yang dibicarakan (termasuk tulisan untuk chatting dan sms) itu jujur, nyata atau malah sebaliknya..

Sedikit sekali orang yang sakit hati atau membenci kita karena obrolan ini, tapi sangat banyak orang yang menjadi saling tertarik, mengagumi bahkan jatuh hati dibuatnya. Hal ini sangat mungkin terjadi karena biasanya isi pesan yang dikirimkan adalah bicara tentang keberhasilan atau kesuksesan, kehebatan dan pembicaraan yang mengarah pada perasaan yang serasa memperhatikan banget..

Cermati dengan baik obrolan itu bandingkan dengan kehidupan nyata dari lawan yang pernah kita tahu dan kenal sebelumnya. Jangan terlalu mempercayai apa yang dibicarakan oleh teman kita... Jangan silau oleh ocehan-ocehan teman kita.... Anggapan bahwa itu just for fun akan lebih bijaksana, agar kita tidak terjerumus karenanya. Beberapa teman yang pernah terlibat dalam diskusi ringan dengan topik ini ada yang mengatakan bahwa 99,99% dari obrolan ini adalah bohong.

Nah.. Lo...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar