Hobby adalah sesuatu yang sangat kita sukai... Orang rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar sekalipun asalkan bisa terpenuhi yang namanya Hobby ini. Jenis hobby yang biasa disukai kaum adam dan jarang disukai kaum hawa adalah memelihara burung. Berbagai jenis burung kerap menghias rumah penghobby ini.. dari yang murah sampai yang mahal. Burung yang mahal biasanya dikarenakan kicauannya yang merdu dan dalam jangka waktu yang lama. Tapi tidak sedikit burung yang mahal, karena burung itu sudah pernah menang dalam sebuah lomba.
Bagi orang yang tidak suka burung seperti saya, burung apapun ya tetap burung yang harus diberi makan dan dijaga kelestariannya. Ada seorang teman yang juga tidak hobby memelihara burung tapi tertarik untuk membeli burung.... Berikut kisah singkatnya...
Seorang temen ini pernah dinas di KP4... sekarang namanya KP2KP yang letaknya berbeda dengan kantor induknya, yaitu KPP. Karena ada undanga rapat bergegas teman (kita sebut aja dengan AP) ini menuju kota di kantor induknya. Karena mobil dinas lagi dipakai, berangkatlah AP naik bus umum. Suasana di atas bus sendiri tidak terlalu padat, sehingga AP bisa memilih duduk agak ke belakang dan mengambil tempat di dekat jendela. Tak lama berselang naik lagi satu orang penumpang yang masih bisa disebut sebagai pemuda dengan membawa bungkusan berwarna coklat agak tebal dan langsung mengambil tempat di sebelah AP.
semenjak pemuda ini duduk disebelah AP terdengar terus burung berkicau... Dalam benak AP sudah ingin tahu apa sebenarnya yang dibawa pemuda ini. Namun mengingat akan ada rapat dia lebih berkonsentrasi dengan agenda rapat yang telah disusun. Tak lama berselang naik lagi dua orang pemuda dan berdiri di lorong bus dekat tempat AP duduk... Mendengar suara burung tadi, 2 orang pemuda tertarik dan bertanya pada pemuda yang membawa bungkusan, "Apa itu Mas". Dijawabnya,"Oh burung...". Si pemuda nanya lagi, "burung apa, koq bunyinya bagus sekali". Kembali dijawab,"Ohhh.. burung Anu dari Irian Jaya (Lupa nama burungnya.. habis bukan penghobby sih...). Si pemuda minta ijin melihat dan ditunjukkannya burung itu dengan cara diintipkan keujung bungkusan. Dua Pemuda tadi saling sahut-sahutan berkomentar,"Wah mahal itu.. sudah mulai langka.. karena banyak penggemarnya". Kembali si pemuda bertanya, "dijual nggak mas...?". dijawabnya, "Iya... ini mau dibawa ke pasar". Kembali si pemuda menawar, "saya beli aja mas... dijual berapa?" dijawab si pemuda, "Tiga ratus ribu". Si pemuda, " Lho koq murah... kalau gitu saya beli aja.. tapi di depan ya.. aku ngambil duit dulu di ATM". Si pembawa burung menolak, "Wah enggak bisa mas bentar lagi dah mau turun". Kedua pemuda tadi kecewa dan terus membicarakan kelebihan suara dan kelangkaan burung itu dengan suara yang jelas di dengar oleh para penumpang lainnya. Yang cukup menarik perhatian adalah ketika sang pemuda mengatakan, "wah kalau dijual lagi bisa untung banyak.... karena biasanya burung itu seharga Rp. 900.000,-".
Si AP yang dari tadi diam tapi tetap memperhatikan pembicaraan tadi mulai tertarik akan keberadaan burung itu. AP mulai bertanya,"Boleh lihat burungnya, Mas?". Boleh jawab si pemuda, sambil membuka sedikit ujung bungkusan untuk memberi kesempatan AP untuk mengintip. AP melihat memang burungnya berwarna-warni. AP pikir, "Wah bagus juga.. masak orang segini banyak tidak ada yang bawa uang Rp. 300.000,-" Akhirnya dia beranikan diri untuk menawar,"Saya beli aja..., tapi jangan Rp. 300.000,-". Tapi si pemuda bergeming dan akhirnya AP menyerah dan menukarkan uangnya yang Rp. 300.000,- dengan burung yang dipegang oleh si Pemuda. Dalam benak AP berpikir wah lumayan nih.. bisa untung Rp. 600.000,-. Setelah uang dan burung sudah berpindah tangan, tak lama kemudian si pemuda turun dari bus.. dan tak lama berselang dua orang pemuda yang menawar tadi juga turun.
Sesaat kemudian sang kondektur bus mendekati AP dan mengatakan, "Waduh mas.. anda sudah tertipu..". Mendengar ungkapan itu AP kaget juga... karena sejak si pemuda turun.. burung itu sudah tidak berbunyi lagi. Sang kondektur pun menambahkan, "logikanya lho mas, kalau burung itu dibawa naik bis, mana mau bunyi... yang ada malah stress..".
Sesaat tersentak juga AP, pikirnya, "Jangan-jangan benar juga ungkapan sang kondektur ini".
Tapi si AP ini juga cerdik dan tidak mau malu didepan umum.. dia segera menjawab," Ah enggaklah kalau tertipu.. wong saya beli burung dapat burung... koq tertipu...". Untuk mempertegas argumennya si AP pun menambahkan, "Saya itu suka burung bukan karena kicauannya, tapi karena bulunya yang warna-warni...".
Sesampai di kantor yang dituju, AP ketemu dengan satpam dan menceritakan kejadian di bus tadi. Si satpam ikut merasa penasaran dan ingin melihat burung yang barusan di beli. Melihat burung tersebut kontan sang satpam yang lumayan ngerti tentang burung berkomentar," Walah pak.. kalau beli burung ini seharga Rp. 300.000,- ya kemahalan.. kalau di pasar burung harganya cuma Rp. 25.000,-". Mendengar komentar sang satpam AP jadi tambah keki... akhirnya dia pasrah dan menyerahkan burungnya pada sang satpam sambil ngomel, " Ya udah buat kamu aja....".
Berdasarkan kisah nyata.........
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar